PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
PESANTREN
DI INDONESIA
Perkembangan
pendidikan Islam di indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai
lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana sampai
dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap. Lembaga pendidikan
Islam memainkan fungsi daan perannya sesuai dengan tuntutan zaman.
Perkembangan
pendidikan Islam ditandai dengan kemunculan pesantren dan madrasah sebagai
lembaga pendidikan islam. Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan dari
tuntutan umat. Oleh karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam
selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat disekitarnya sehingga
keberadaannya di tengah-tengah masyarakat tidak menjadi terasing. Dalam waktu
yang sama segala aktifitas yang dilakukan di pesantren mendapat dukungan dan
apresiasi penuh dari masyaarakat.
Dalam
makalah ini akan dijabarkan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pesantren di
Indonesia, yang meliputi sejarah, karakteristik, sistem pendidikan, tradisi
pesantren dan pengembangan masyarakat.
A. Sejarah Kemunculan
Pesantren
Secara
garis besar, ada dua pendapat
mengenai kemunculan pesantren. Pendapat pertama mengatakan bahwa pesantren
berasal dari tradisi pra-Islam. Sementara pendapat kedua mengatakan pesantren
adalah model pendidikan yang berasal dari tradisi Islam.
Banyak penulis sejarah pesantren berpendapat bahwa
institusi pesantren ini merupakan hasil adopsi dari model perguruan yang
diselenggarakan orang-orang Hindu dan Budha. Sebagaimana diketahui sewaktu Islam datang dan berkembang di pulau Jawa telah ada lembaga perguruan Hindu dan Budha yang menggunakan sistem
biara dan asrama sebagai tempat para pendeta dan bhiksu melakukan kegiatan
pembelajaran kepada para pengikutnya.
Pendapat A.H. Jhons dan C.C. Berg menganalisis,
istilah santri berasal dari bahasa
Tamil yang berarti guru mengaji. Istilah tersebut berasal dari istilah shanstri
yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau
seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata shanstri berasal dari kata
shanstra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang
ilmu pengetahuan.
Pendapat serupa dikemukakan oleh sejarawan Sugarda
Purbakawactja. Menurutnya, terdapat beberapa persamaan antara unsur-unsur yang
terdapat dalam sistem pendidikan Hindu dengan sistem pendidikan pesantren yang
tidak terdapat dalam sistem pendidikan Islam yang asli di Makkah. Unsur-unsur
yang dimaksud adalah seluruh sistem pendidikannya bersifat agamis, guru tidak
mendapat gaji, penghormatan yang besar terhadap guru dan murid pergi meminta ke
luar lingkungan pondok.
Bentuk pendidikan seperti ini kemudian menjadi contoh
model bagi para wali dalam melakukan kegiatan penyiaran dan pengajaran Islam
kepada masyarakat luas, dengan mengambil bentuk sistem biara dan asrama dengan
merubah isinya dengan pengajaran agama Islam yang kemudian dikenal dengan sebutan
pondok pesantren.
Pesantren muncul bersamaan dengan proses Islamisasi
yang terjadi di Bumi Nusantara pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi, dan terus
berkembang sampai saat ini.
Menurut M. Arifin sebagaimana dikutip oleh M. Abd
Muin, mendefinisikan pondok pesantren yaitu suatu lembaga pendidikan agama
Islam yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar, dengan sistem asrama
(komplek) di mana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem
pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari leadership seseorang atau beberapa orang
kyai dengan ciri-ciri khas yang kharismatik serta independen dalam segala hal.
Lahirnya
lembaga pendidikan pesantren sesungguhnya bisa dilacak sejak periode Walisongo.
Namun keberadaan lembaga ini dalam pengertian modern hanya bisa ditemukan pada
abad ke-18 dan 19. Pesantren merupakan lembaga pendidikan dengan bentuk khas
sebagai tempat di mana proses pengembangan keilmuan, moral dan keterampilan
para santri menjadi tujuan utamanya.
B. Karakteristik Pesantren
Bentuk-bentuk pesantren yang tersebar luas di
Indonesia mengandung unsur-unsur tertentu sebagai karakteristiknya. Secara umum
pesantren dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern).
Sebuah pesantren disebut pesantren salaf jika dalam
kegiatan pendidikannya semata-mata berdasarkan pada pola-pola pengajaran klasik
atau lama, yakni berupa pengajian kitab kuning dengan metode pembelajaran
tradisional serta belum dikombinasikan dengan pola pendidikan modern.
Sedangkan pesantren khalaf atau modern adalah pesantren yang di
samping tetap dilestarikannya unsur-unsur utama pesantren, juga memasukkan
unsur-unsur modern yang ditandai dengan klasikal atau sekolah dan adanya materi
ilmu-ilmu umum dalam muatan kurikulumnya. Pada pesantren ini sistem sekolah dan adanya ilmu-ilmu umum digabungkan
dengan pola pendidikan pesantren klasik.
Dengan demikian, pesantren modern merupakan pendidikan pesantren yang diperbarui dan dipermodern pada segi-segi
tertentu untuk disesuaikan dengan sistem sekolah.
Seiring
dengan laju perembangan masyarakat, maka pendidikan pesantren baik tempat, bentuk
hingga substansi telah jauh mengalami perubahan. Pesantren tidak lagi sederhana
seperti apa yang digambarkan seseorang akan tetapi pesantren dapat mengalami
pertumbuhan dan perkembangan zaman. Sebagaimana yang dijelaskan Yaqub dalam
“:Pondok pesantren dan pembangunan masyarakat desa” sebagai berikut:
a) Pesantren
salafi, yaitu pesantren yang tetap mempertahankan pelajaran dengan kitab-kitab
klasik dan tanpa diberikan pengetahuan umum. Model pengajarannya pun
sebagaimana yang lazim diterapkan dalam pesantren salaf, yaitu dengan metode
sorogan dan weton.
b) Pesantren
khalafi, yaitu pesantren yang menerapkan sistem pengajaran klasikal (madrasi),
memberikan ilmu umum dan ilmu agama serta juga memberikan pendidikan
keterampilan.
c) Pesantren
kilat, yaitu pesantren yng tertentu semacam training dalam waktu relatif
singkat dan biasa dilaksanakan pada waktu libur sekolah. Pesantren ini
menitikberatkan pada keterampilan ibadah dan kepemimpinan sedangkan santri
terdiri dari siswa sekolah yang dipandang perlu mengikuti kegiatan keagamaan di
pesantren kilat.
d) Pesantren
terintegrsai, yaitu pesantren yang mekekankan pada pendidikan vokasional atau
kejuruan sebagaimana balai latihan kerja di departemen tenaga kerja dengan
program terintegrasi. Sedangkan santri mayoritas berasal dari kalangan anak
putus sekolah atau para pencari kerja.
Ada tiga karakteristik yang dikenali sebagai basis
kultur pesantren, yakni:
·
Pesantren
sebagai lembaga tradisioanalisme
Tradisionalisme dalam
konteks pesantren harus dipahami sebagai upaya mencontoh tauladan yang
dilakukan para ulama salaf yang masih murni dalam menjalankan ajaran Islam agar
terhindar dari bid’ah, khurafat, takhayul serta klenik.
·
Pesantren
sebagai pertahanan budaya
Mempertahankan budaya dengan
ciri tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah
berkembang berabad-abad. Ide mempertahankan budaya ini telah mewarnai kehidupan
intelektual dunia pesantren.
·
Pesantren
sebagai pendidikan keagamaan
Pendidikan pesantren
didasari, digerakkan dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber
pada ajaran Islam.
Unsur-unsur penting dan suasana yang menandai
pendidikan pesantren yang dianggap sebagai elemen pokok sebuah pesantren menurut
pandangan Dhofier yaitu kyai, pondok, masjid, santri dan pengajian kitab klasik.
C. Orientasi Pendidikan Pesantren
Pada awal rintisannya, pesantren bukan hanya
menekankan misi pendidikan, melainkan juga dakwah. Akan tetapi, misi kedua
itulah yang justru lebih menonjol. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua
di Indoseia selalu mencari lokasi yang sekiranya dapat menyalurkan dakwah
tersebut tepat sasaran.
Dalam skala
makro, sasaran pesantren adalah masyarakat luas. Keberadaan pesantren ditengah masyarakat
sebagai suatu komunitas pada hakikatnya dalah membangun jalinan nilai spiritualitas
dan moralitas sebagai tatanan nilai yang seharusnya dipraktekkan. Tanggungjawab
pesantren adalah memberikan kontrol dan sekaligus stabilisator perkembangan
kehidupan masyarakat yang sering menimbulkan ketimpangan kultural.
Secara umum,
potret pesantren adalah sebuah asrama pendidikan islam tradisional dimana para
siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu- ilmu keagamaan di bawah bimbingan
seorang guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai. Asrama untuk para siswa
berada dalam dalam kompleks pesantren dimana kiai bertempat tinggal.
Pesantren
berperan sebagai lembaga yang mengembangkan nilai moral-spiritual, informasi,
komunikasi timbal balik secara kultural dengan masyarakatnya dan tempat
pemupukan solidaritas umat. Menurut rumusan Azyumardi Azra, pesantren telah
memainkan tiga peranan; transmission of islam knowledge (penyampaian
ilmu-ilmu keislaman), maintenance of islam tradition (pemeliharaan
tradisi islam), dan reproduction of ulama (pembinaan calon-calon ulama).
Pembaruan
pesantren dilakukan dalam upaya merefungsionalisasi pesantren agar peranan dan
sumbangannya sebagai pelaku pembangunan masyarakat dirasakan secara nyata. Pada
konteks ini, lembaga pesantren menempatkan diri sebagai institusi dinamisator
dan katalisator pembangunan masyarakat desa bukan hanya di bidang keagamaan,
namun juga di bidang-bidang kehidupan sosial lainnya. Gejala tumbuhnya minat
pesantren untuk mengembangkan program kemasyarakatan secara sederhana dibedakan
dalam dua bagian. Pertama, program kemasyarakatan yang tumbuhdan dikembangkan
oleh inisiatif pihak pesantren sendiri sedangkan yang Kedua adalah pendekatan
program kemasyarakatan yang dikembangkan atas suatu kerja sama dengan pihak
luar. Pesantren dalam kaitan dengan proses
pengembangan masyarakat bisa memosisikan dirinya sebagai pusat
penyuluhan kesehatan, pusat pengembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat
pedesaan dan pusat pemberdayaan bidang masyarakat, di samping tugasnya sebagai
lembaga pendidikan keagamaan.
D. Sistem Pendidikan Pesantren
Tujuan
pendidikan pesantren adalah setiap maksud dan cita-cita yang ingin dicapai
pesantren, terlepas apakah cita-cita
tersebut tertulis atau hanya disampaikan secara
lisan. Secara sederhana menurut Manfred yang mengutip pendapatnya Kamla
Bhasin, bahwa secara umum tujuan pesantren mengikuti dalil, bahwa “ pendidikan
dalam sebuah pesantren ditujukan untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin akhlak
dan keagamaan. Diharapkan bahwa para santri akan pulang ke masyarakat mereka
sendiri-sendiri, untuk menjadi pemimpin yang tidak resmi atau kadang-kadang
pemimpin resmi dari masyarakatnya”.
Sebagai
lembaga pendidikan islam, pesantren dalam merumuskan tujuan atau cita-citanya
selalu merujuk pada nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah, baik
itu rumusan dalam bentuknya yang tertulis maupun yang disampaikan secara lisan
oleh kyainya. Pesantren juga memperhatikan aspirasi masyarakat sekitarnya,
karena itu pesan-pesan masyarakat juga diakomodasi dalam wujud kurikulum
pesantren.
Dewasa
ini, pembinaan dan pengembangan pesantren di samping dilakukan secara intern,
pemerintah juga turut ambil bagian dalam upaya pengembangan pesantren dengan
memberikan bimbingan. Bimbingan dan pembinaan yang dilakukan pemerintah
memiliki arah (tujuan) sebagai berikut:
1. Meningkatkan
dan membantu pondok pesantren, dalam rangka membina dan mendinamisir pondok
pesantren di seluruh indonesia sehingga mampu mencetak manusia muslim yang
bertaqwa, cakap berbudi luhur dan terampil bekerja, untuk membangun diri dan
keluarnya serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan dan keselamatan
bangsa.
2. Menetapkan
pondok pesantren dalam mata rantai keseluruhan sistem pendidikan nasional, baik
pendidikan formal maupun penddikan non formal dalam rangka membangun masyarakat
seutuhnya dan perencanaan ketenagakerjaan yang menghasilkan masyarakat yang
cakap sebagai tenaga pembangunan.
3. Membina
warga negara agar berkepribadian muslim sesuai
ajaran islam, dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya,
serta menjadikannya sebagai orang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara.
Sebagian
besar mata pelajaran di pesantren terbatas pada pemberian ilmu yang secara
langsung membahas masalah aqidah, syari’ah, dan bahasa arab: yang meliputi
antara lain al-Qur’an dengan tajwid serta tafsirnya; aqoid dengan ilmu
kalamnya; fiqh dengan usul fiqhnya; hadits dengan mustholah haditsnya; dan
bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti nahwu, sorof, bayan, ma’ani, badi’ dan
arudi; tarikh, mantiq dan tasawuf.
Belajar
di pesantren juga tidak sekedar mempelajarai naskah-naskah klasik, namun
suasana keagamaan dan kebersamaan dengan beberapa kegiatan tambahan ikut
menentukan pembentukan kepribadian santri. Kurikulum pesantren sebenarnya
mencakup seluruh kegiatan yang dilakukan pesantren dalam waktu 24 jam. Suasana
pesantren yang mencerminkan kehidupan sederhana, disiplin, rasa sosial,
mengatur hidup sendiri, ibadah dengan tertib dan sebagainya, meberikan nilai
tambah dalam keseluruhan proses belajar yang tidak bisa didapat di luar sistem
pesantren.
Metode
Pengajaran di Pesantren adalah bandongan atau wetonan dan sorogan. Metode bandongan
dilakukan kyai atau guru membacakan teks-teks kitab yang berbahasa arab,
menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal dan sekaligus menjelaskan maaksud yang
terkandung dalam kitab tersebut. Metode ini dilakukan dalam rangka memenuhi
kompetensi kognitif santri dan memperluas referensi keilmuan bagi mereka.
Metode
sorogan dilakukan dengan menitikberatkan pada pengembangan kemampuan
perseorangan atau individu di bawah bimbingan seorang ustadz atau kyai.
E. Tradisi
Pesantren
Kata
tradisi berasal dari bahasa Inggris, tradition yang berarti tradisi.
Dalam bahasa Indonesia, tradisi diartikan sebagai segala sesuatu (seperti adat,
kepercayaan, kebiasaan, ajaran dan lain sebagainya) yang turun temurun dari
nenek moyang hingga anak cucu.
Selanjutnya
kata pesantren berasal dari pesantrian, yang berarti asrama atau tempat
murid-murid belajar mengaji. Dalam pengertian umum, pesantren adalah salah satu
lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang didalamnya terdapat: pondokan
atau tempat tinggal, kiai (pendidik), santri (anak didik), masjid dan kitab
kuning.
Dengan
demikian, kata tradisi pesantren adalah segala sesuatu yang dibiasakan,
diapahami, dihayati dan dipraktikan di pesantren, yaitu berupa nilai-nilai dan
implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga membentuk kebudayaan dan
peradaban yang membedakannya dengan tradisi yang terdapat pada lembaga
pendidikan lainnya.
Dalam
hal ini, ada beberapa hal yang menunjukkan tradisi yang ada di pesantren,
diantaranya :
1. Tradisi
Rihlah Ilmiah
Rihlah
ilmiah secara harfiah berarti perjalanan ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam arti
yang biasa dipahami, rihlah ilmiah adalah melakukan perjalanan dari suatu
daerah ke daerah lain, atau dari satu negara ke negara lain, dan terkadang
bermukim dalam waktu yang cukup lama, bahkan tidak kembali ke daerah asal,
dengan tujuan utama untuk mencari, menimba, memperdalam dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, bahkan mengajarkannya dan menuliskannya dalam berbagai kitab.
2. Tradisi
Menulis Buku
Menulis
buku merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh para kiai pesantren.
Beberapa ulama pimpinan pondok pesantren yang juga menulis kitab, diantaranya:
Nawawi al-Bantani, Mahfudz al-Tirmidzi, K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Asnawi
Kudus, K.H. Hasyim Asy’ari dan masih banyak ulama lain lagi.
3. Tradisi
Meneliti
Dilihat
dari segi sumbernya terdapat penelitian bayani, burhani, ijbari, jadali dan
‘irfani.
4. Tradisi
Membaca Kitab Kuning
Melalui
tradisi membaca kitab kuning ini, para kiai pesantren telah berhasil mewarnai
corak kehidupan keagamaan masyarakat pada khususnya dan kehidupan sosial
kemasyarakatan pada umumnya. Kuatnya pengaruh ajaran Ahl al-Sunnah wa
al-Jama’ah dikalangan umat Islam, yang dicirikan dengan penggunaan paham
Asy’ariyah dalam bidang teologi, penggunaan paham As-Syafi’i dalam bidang fiqh,
dan penggunaan tasawuf al-Ghazali dan Imam al-Junaid terjadi karena pengaruh
dari tradisi membaca kitab kuning oleh para kiai di pesantren, serta
ceramah-ceramah yang mereka sampaikan di masayarakat.
5. Tradisi
Berbahasa Arab
Seiring
dengan adanya tradisi penulisan kitab-kitab oleh para kiai sebagaimana yang
diterangkan sebelumnya dengan menggunakan bahasa Arab, maka dengan sendirinya
telah menumbuhkan tradisi berbahasa Arab yang kuat di kalangan pesantren.
Selain
itu pengguanaan bahasa Arab juga terjadi karena pengaruh dari kejayaan Islam di
zaman klasik yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan dan peradaban,
ilmu pengetahuan umum, seni budaya dan lainnya yang menggunakan bahasa Arab.
6. Tradisi
Mengamalkan Thariqat
Masyarakat
salafiyah yang dibangun oleh dunia pesantren itu mewujudkan kesatuan tak
terpisahkan antara takwa dan akhlak, atau antara religiousitas dan etika.
Kuatnya
tradisi pengalaman tasawuf dalam bentuk thariqat di pesantren telah dibuktikan
dengan beberapa hal, seperti mengermatkan makam para kiai dan menziarahinya
untuk memperoleh berkah.
7. Tradisi
Menghafal
Menghafal
adalah salah satu metode atau cara untuk menguasai mata pelajaran di pesantren.
Metode ini dikatakan sebagai metode klasik yang digunakan di pesantren Timur
Tengah, karena metode ini tidak membutuhkan biaya dan memacu belajar
sungguh-sungguh dikalangan para santri. Metode ini semakin diintensifkan
pengguanannya karena mereka yang hafal kitab-kitab tersebut dianggap santri
yang cerdas dan berpotensi untuk menjadi kiai.
8. Tradisi
Berpolitik
Berkiprah
dalam bidang politik dalam arti teori dan praktik juga menjadi salah satu
tradisi di kalangan dunia pesantren pada umumnya. Lahirnya Nahdhatul Ulama (NU)
pada 1926 yang kemudian pernah berubah menjadi salah satu parta politik yang
ikut Pemilu pada tahun 70-an menunjukkan kuatnya tradisi berpolitik di kalangan
pesantren.
9. Tradisi
Lainnya
Tradisi
lainnya yang dipraktikkan di pesantren yang lebih bersigfat sosial keagamaan,
adalah tradisi poligami bagi kiai yang dilakukan dalam rangka mengahasilkan
keturunan yang dapat menjadi kiai lebih banyak lagi. Selain itu terdapat pula
tradisi ziarah kubur (terutama kuburan para kiai thariqat yang kharismatik),
tradisi haulan (mengirim doa tahunan kepada pimpinan pesantren yang sudah
meninggal), tradisi silaturahmi dengan sesama rekan santri.
F.
Pesantren
dan Pengembangan Masyarakat
Pesantren
merupakan salah satu model dari pendidikan berbasis masyarakat. Kebanyakan pesantren
berdiri atas inisiatif masyarakat muslim yang tujuan utamanya adalah untuk
mendidik generasi muda agar memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam dengan
baik. Nilai-nilai keagamaan seperti ukhuwah (persaudaraan), ta’awun
(kerjasama), jihad (berjuang), taat, sederhana, mandiri, ikhlas dan berbagai
nilai eksplisit dari ajaran islam lain yang mentradisi di pesantren ikut
mendukung kelestariaannya.
Upaya
pengembangan masyarakat (community development) yang dilakukan pesantren bisa
mencakup empat aktivitas penting. Pertama, berupaya membebaskan dan
menyadarkan masyarakat. Kegiatan ini bersifat subjektif dan memihak kepada
masyarakat tertindas (du’afa)
dalam rangka mengfasilitasi mereka dalam suatu proses penyadaran sehingga
memungkinkan lahirnya upaya untuk pembebasan diri dari kemiskinan dan
keterbelakangan. Kedua, ia menggerakkan partisipasi dan etos swadaya
masyarakat. Pesantren perlu menciptakan suasana dan kesempatan yang
memungkinkan masyarakat mengidentifikasi masalah mereka sendiri, merumuskan
tujuan pengembangan mereka sendiri, menjadi pelaksana utama sendiri, melakukan
evaluasi dan menindaklanjuti sendiri dan menikmati hasilnya. Ketiga,
pesantren mendidik dan menciptakan pengetahuan. Keempat, pesantren
memelopori cara mendekati masalah secara benar sehingga masyarakat mengetahui
kebutuhan riilnya. Jadi masyarakat mampu mengintegrasikan antara penelitian
dengan haksi dimana masyarakat sebagai pelaku utamanya.
Pesantren
yang kebanyakan berada di pedesaan lebih memungkinkan baginya dalam memahami
persoalan masyarakat desa. Bila di topang oleh perangkat keilmuan yang
memberikan gagasan-gagasan segar soal pembangunan dan mampu di serapnya tentu
akan mempermudah lembaga ini dalam mentransfernya kepada masyarakat desa. Arus
kontak informasi dengan dunia luar serta intensitas interaksinya dengan
masyarakat pedesaan memungkinkan institusi keagamaan ini untuk berfungsi
sebagai tempat bertanya bagi masyarakat.
Pesantren
memiliki potensi untuk mampu mengembangkan diri dan mengembangkan masyarakat
sekitarnya. Potensi-potensi itu meliputi tiga aspek pertama, pondok
pesantren hidup selama 24 jam, dengan pola 24 jam tersebut, baik pondok
pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan, sosial kemasyarakatan, atau
sebagai lembaga pengembangan potensi umat dapat diterapkan secara tuntas,
optimal dan terpadu.
Kedua, pondok
pesantren secara umum mengakar pada masyarakat. Pondok pesantren banyak tumbuh
dan berkembang umumnya di daerah pedesaan, karena memang tuntutan masyarakat
yang ingin menghendaki berdirinya pondok pesantren. Dengan demikian, pondok
pesantren dan keterikatanya dengan masyarakat merupakan hal yang amat penting
bagi satu sama lain. Dalam konteks pelaksanaan pendidikan berbasis masyarakat,
pondok pesantren dianggap telah menjalankan gerakan ini. Salah satu buktinya,
kebanyakan pesantren memiliki program pengajian rutin yang dihadiri oleh warga
sekitar pondok secara sadar tanpa paksaan. Ini adalah salah satu implementasi
pendidikan berbasis masyarakat yang dijalankan oleh pondok pesantren.
Ketiga, pondok
pesantren dipercaya masyarakat. Kecenderungan masyarakat menyekolahkan anaknya
ke pondok pesantren tentu saja didasari oleh kepercayaan mereka terhadap
pembinaan yang dilakukan oleh pondok pesantren yang lebih mengutamakan
pendidikan agama.
Agar
pesantren mampu menegaskan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang berbasis
masyarakat, maka pesantren dituntut untuk mendesain lembaga pendidikannya
sebagai lembaga yang mampu menyiapkan santrinya sebagai komponen penting dalam
pengembangan masyarakat. Kesadaran akan peran strategis pesantren inilah yang
memaksa pesantren untuk memodernisir sistem pendidikannya secara integralistik/
terpadu.
DAFTAR PUSTAKA